Selasa, 07 Juni 2016 - 09:12:58 WIB
Sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Umum - Dibaca: 890 kali

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

PADA ACARA MEMPERINGATI HARI LINGKUNGAN HIDUP

SEDUNIA

 

Minggu, 5 Juni 2016

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera

Om Swastiastu

Saudara-saudara yang saya hormati,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang  Maha  Esa,  atas  karunia  kepada  kita  semua.  Hari  ini  kita memperingati Hari Lingkungan  Hidup  Sedunia, yang  diperingati setiap  tanggal  5  Juni.  Pada  tahun  ini  UNEP  (United  Nations Environment  Programme/Badan  Lingkungan  Hidup  PBB)    telah menetapkan  tema  Hari  Lingkungan  Hidup  Sedunia,  yaitu  GoWild  for  Life”. Secara nasional,  kita  menyesuaikan  tema  Hari Lingkungan  Hidup  Indonesia  2016  adalah  Selamatkan Tumbuhan dan Satwa Langka untuk Kehidupan”. 

Tema  ini  sangat  penting  bagi  Indonesia  yang  kaya keanekaragaman hayati. Indonesia merupakan rumah dari 17% total spesies yang ada di dunia, yaitu sebanyak 35 ribu – 40 ribu spesies  tumbuhan  (11-15%),  707  spesies  mamalia  (12%),  350 spesies  amphibi  dan  reptil  (15%),  1.602 spesies  burung  (17%) dan  2.184  spesies  ikan  air  tawar  (37%).  Sementara  untuk kelautan  terdapat  setidaknya  2.500  spesies  molusca,  2000 spesies krustasea , 6 spesies penyu laut, 30 spesies mamalia laut, dan lebih dari 2.500 spesies ikan. 

Namun  banyak  persoalan  kita  hadapi  dalam  keanekaragaman hayati.  Sebagian  besar  spesies  diketahui  menghadapi  ancaman kepunahan  karena  perusakan  habitat  dan  perburuan. Berdasarkan  data  IUCN,  tercatat  di  Indonesia  2  spesies  satwa berkategori punah, 66 spesies berkategori kritis, dan 167 spesies kondisi genting. Sedangkan untuk tumbuhan, 1 spesies punah, 2 spesies  punah  in  situ,  115  spesies  kritis,  dan  72  spesies berstatus genting. 

Oleh  karena  itu  Pemerintah  menegaskan  upaya  perlindungan terhadap tumbuhan dan satwa liar (TSL). Hingga saat ini jumlah 3 spesies  yang  dilindungi  mencakup  127  spesies  mamalia,  382 spesies  burung,  31  spesies  reptilia,  12  spesies palmae,  11 spesies raflesia dan 29 spesies orchidaceae.

Selain  kebijakan  perlindungan  TSL,  Indonesia  juga  aktif memberantas  kejahatan  perdagangan  TSL  (wildlife  crime). Sepanjang  periode  2010-2014  jumlah  kasus  TSL  yang  berhasil diselesaikan  sebanyak  146  kasus  dari  total  188  kasus  atau sebesar 77,6%. Meskipun jumlah kasus yang terselesaikan cukup tinggi, namun kecenderungan kasus kejahatan perdagangan dan peredaran ilegal TSL terus meningkat. Hal tersebut menunjukkan upaya penegakan hukum saja belum cukup untuk menekan laju kejahatan TSL. Masih perlu untuk memperkuat kerjasama antara negara  sumber,  negara  tujuan  dan  negara  transit  sehingga jaringan perdagangan ilegal antar negara terputus. 

Wildlife crime telah menjadi Transnational Organized Crime dan diposisikan serupa dengan kejahatan luar biasa, seperti korupsi, pencucian uang, kejahatan terorganisir, senjata api ilegal, obat-obatan dan terorisme. 

Kejahatan  TSL  begitu  menarik  bagi  pelakunya  karena menjanjikan  keuntungan  yang  sangat  besar.  Nilai  perdagangan satwa  ilegal  mencapai  15    20  miliar  dollar  per  tahun,  ini merupakan  angka  perdagangan  ilegal  yang  sangat  besar  di 4 dunia,  dimana  nilainya  hampir  sama  dengan  perdagangan narkoba, senjata dan manusia. 

Saudara-saudara yang saya hormati,

Upaya  konservasi  secara  langsung  dapat  mengatasi wildlife crime.  Konservasi yang menekankan pada upaya pelestarian dan perlindungan  keanekaragaman  hayati  secara  tegas  melarang adanya perburuan TSL dilindungi. Konservasi juga mengatur agar pemanfaatan  TSL  dilakukan  dengan  optimal  agar  kondisinya tetap  lestari.  Upaya  konservasi  ini  secara  nyata  di  lapangan dapat  diarahkan    untuk  mengurangi  konflik  manusia-satwa  liar dan  meningkatkan  kesadaran  masyarakat  akan  konservasi, sehingga  dukungan  sosial  untuk  perlindungan  satwa  liar meningkat dan ruang gerak perburuan akan berkurang.

Upaya  perlindungan  dan  pelestarian  alam  di  Indonesia  telah banyak menunjukan prestasi gemilang, dari catatan kurun waktu 1993-2004  ada  penambahan  100  fauna  baru  (Noerdjito  dan Maryanto 2004), sedangkan untuk rentang tahun 2005-2014 ada lebih  dari  269  jenis  baru  hayati  (Wijaya,  dkk.,  2011,  Sutrisno, dkk., 2015) yang ditemukan hanya dari peneliti LIPI. Satwa dari jenis  burung,  mamalia,  amphibi  dan  reptilia,  serta  ikan mengalami peningkatan jumlah jenis hampir mendekati dua kali lipat,  dan  untuk  jenis  kupu-kupu  dan  tumbuhan  bahkan 5 meningkat pesat dengan rentang antara 10 - 20 kali lipat. Data ini berdasarkan informasi kekayaan keanekaragaman hayati yang baru  terkumpul  sekitar  30%  untuk  fauna  dan  50%  untuk  flora yang berada di alam Indonesia.

Indonesia telah menempatkan konservasi sebagai salah satu pilar pendukung  pembangunan  nasional.  Hutan  konservasi  di Indonesia  menempati  porsi  16%  dari  total  luasan  hutan Indonesia yang mencapai 130,68 juta Ha yaitu seluas 20,91 juta ha.  Luasan  ini  harus  dikelola  dengan  pendekatan  multidimensi, komprehensif, sehingga perlindungan dan pelestarian alam dapat berjalan  beriringan  dengan  pembangunan  ekonomi  Indonesia.  Kawasan  konservasi  harus  menjadi  bagian  dari  sumber kesejahteraan masyarakat.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Harus  kita  sadari  bahwa  ancaman  terhadap  keanekaragaman hayati seperti terjadinya kehilangan jenis dan kerusakan habitat diperburuk  dengan  terjadinya  perubahan  iklim.  Disisi  lain, melestarikan  atau  melindungi  keanekaragaman  hayati  dalam kerangka  ekosistem,  juga  bermakna  mempertahankan  karbon yang  ada  pada  kayu  ataupun  lahan  yang  terdapat  di  kawasan tersebut.  Ironinya,  diperkirakan  bahwa  lebih  dari  1  Gigaton karbon dilepaskan per tahun terjadi akibat alih-guna lahan akibat 6 deforestasi  di  kawasan  hutan  tropis.  Deforestasi  ini  mewakili sekitar 20 persen emisi karbon dunia saat ini.

Indonesia  ikut  ambil  bagian  dalam  upaya  pengendalian perubahan  iklim  dan  untuk  menahan  naiknya  suhu  bumi  agar tidak  lebih  dari  1,5    2,0 0 C.    Salah  satu  upaya  penting  ialah dengan  reduksi  emisi  dari  deforestasi  dan  degradasi  atau  kita kenal  dengan REDD+.  Upaya  perlindungan  hutan,  berarti  melindungi  keanekaragaman  hayati.  Sektor  kehutanan  dan pemanfaatan  lahan  dinilai  sebagai  sektor  yang  signifikan  dalam kontribusi emisi karbon.

Upaya  lanjut  yang  berkaitan  dan  saling  mendukung  berkenaan kelestarian  hutan,  ialah  penerapan  kebijakan  Sistem  Verfikasi Legalitas Kayu (SVLK).  Penerapan SVLK menjamin pemanfaatan hasil  hutan  kayu  yang  bertanggung  jawab  dan  legal,  sehingga laju deforestrasi dapat dikurangi. Demikian pula upaya kita untuk mengatasi  akibat  perubahan  iklim  melalui  kawasan  taman nasional,  untuk  reduksi  deforestasi.  Dengan  menggencarkan wisata alam ke taman nasional  maka nilai intangible dari hutan berupa  keindahan  alam  akan  memiliki  arti  ekonomi  bagi masyarakat. Pemanfaatan hutan ini memberi nilai ekonomi yang berlipat daripada nilai ekonomi dari eksploitasi hasil hutan kayu.

Konsepsi SVLK dan taman nasional ini seiring dengan tesis dari Joseph Stiglitz dalam tulisannya From Resource Curse to Blessing yang  menyatakan  bahwa  untuk  keluar  dari  kutukan  sumber daya, negara harus memperluas akses sumber daya alam kepada rakyatnya  dan  bertransformasi  dari  sumber  daya  alam  sebagai keunggulan komparatif menjadi kompetitif (adanya peningkatan nilai tambah).

Permasalahan  lingkungan  lainnya  yang  secara  intens  juga  memerlukan  perhatian  yang  sangat  serius  meliputi  masalah-masalah pencemaran air, pencemaran udara, persampahan dan B3 maupun limbah B3 serta kerusakan lingkungan hidup akibat kegiatan pertambangan. 

Masalah-masalah  itu  secara  keseluruhan  saling  terkait,  saling berasosiasi  dalam  satu  kesatuan  ekosistem,  dimana  kita, manusia,  juga  berada  dan  hidup  di  dalam  ekosistem  tersebut. Permasalahan  lingkungan  hanya  dapat  diatasi  dengan keterlibatan seluruh masyarakat. Masyarakat berada pada posisi sangat  strategis,  baik  sebagai  potensi  sumber  masalah,  yang dapat kita tekan, kurangi, juga sebagai potensi solusi yang harus kita  dorong.  Oleh  karena  itu  partisipasi  masyarakat  menjadi sangat penting dalam setiap upaya pengelolaan lingkungan  dan kehutanan.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Akhirnya,  saya  berharap  agar  momen  Hari  Lingkungan  Hidup Sedunia yang kita peringati saat ini dapat menjadi alarm, tanda siaga  kita  untuk  terus  berupaya  dan  bekerja  keras  mengatasi berbagai  masalah  lingkungan  dan  kehutanan  yang  banyak, komplek  dan  rumit.  Kerja  keras  kita  Inshaa  Allah  akan membuahkan hasil yang baik untuk Indonesia kita tercinta. 

Mari  kita  lestarikan  alam,  jaga  lingkungan,  jaga  hutan,  dan keanekaragaman  hayatinya, karena ia merupakan anugerah tak ternilai  dari  Tuhan  YME  kepada  manusia,  kepada  bangsa  kita. Semoga  Tuhan  Yang  Maha  Esa  memberikan  ridho-Nya  kepada kita semua. 

Terima Kasih

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Om, Santi Santi Santi Om

 

Menteri Lingkungan Hidup 

dan Kehutanan 

 

 

  SITI NURBAYA