Jumat, 17 Agustus 2018 - 22:01:16 WIB
Upaya Penyelamatan Pendaki di Kawasan TN Gunung Rinjani Pasca Gempa Bumi Lombok 29 Juli 2018
Diposting oleh : Administrator
Kategori: GempaLombok - Dibaca: 117 kali

Upaya Penyelamatan Pendaki
di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani
Pasca Gempa Bumi Lombok 29 Juli 2018 

Pada tanggal 31 Juli 2018 pukul 19.50 WITA seluruh pendaki dan Tim Evakuasi sudah keluar dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Pendaki TNGR per 1 Agustus yang telah berhasil dievakuasi sebanyak 1.226 orang terdiri dari WNA 696 orang dan WNI 530 orang. WNA terbanyak berasal dari Thailand 358 orang (54,88%), Perancis 68 orang (9,77%), Belanda 43 orang(6,17%), Jerman 25 orang (3,59%) dan Swiss 21 orang (3,01%).

Satu orang WNI meninggal dunia akibat terkena batu longsoran di KM 10 jalur pendakian Sembalun a.n. Moch. Ainul Taksim umur 26 tahun, berasal dari Makassar. Jenazah telah diserahkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KEMENLHK) yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal, kepada pihak keluarga dan diberangkatkan ke Makassar pada tanggal 31 Juli 2018 pukul 19.45  WITA. Jenazah telah tiba di Makassar pada tanggal 1 Agustus 2018 pukul 02.00 WITA, diterima oleh pihak keluarga, jajaran Badan SAR Nasional, Badan Nasional Penanggulangan  Bencana, dan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi KEMENLHK.

Penyelamatan pendaki TNGR dibawah kendali Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), dengan anggota Balai TNGR (23 orang), Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (8 orang), Balai Konservasi Sumberdaya Alam NTB (8 orang), BASARNAS (49 orang), KOPASSUS (40 orang), KOREM 162 Wirabhaktidan KORAMIL Sembalun (20 orang), BRIMOB POLDA NTB, SABHARA dan DALMAS POLRES Lombok Timur (19 orang), TIM MEDIS Edelweis Medical Health Center (6 orang), GRAHAPALA UNRAM (18 orang).

Dukungan operasi dilakukan oleh Balai TNGR (transportasi, alat komunikasi dan logistik), TNI-KODAM IX Udayana (medis, helikopter, alat komunikasi dan evakuasi), Badan SAR Nasional (Transportasi, alat komunikasi dan logistik), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (helikopter), PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (helikopter), Rudy Trackker, para relawan dari Kecamatan Sembalun, Desa Sembalun, Desa Sembalun Lawang, Desa Sembalun Bumbung, Desa Sembalun Timba Gading, dan Desa Sajang, yang mendukung seluruh proses evakuasi.

Komisi VII DPR RI didampingi Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 30 Juli 2018, melakukan kunjungan dan berdialog dengan tim evakuasi gabungan dan para pendaki yang dirawat di Posko Bersama di Kecamatan Sembalun, memberikan arahan serta dukungan moral.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanandan Direktorat JendralKonservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan pendaki akibat bencana gempa bumi  di TN. Gunung Rinjani,  yaitu kepada:

  1. Gubernur Nusa Tenggara Barat
  2. Bupati dan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur
  3. Panglima Kodam IX Udayana, Komandan Korem 162 Wirabhakti,
  4. Komandan Kodim 1615 Lombok Timur,
  5. Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat,
  6. Kepala Kepolisian Resort Lombok Timur,
  7. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
  8. Kepala BASARNAS (Badan SAR Nasional),
  9. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
  10. Kepala BPBD NTB (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nusa Tenggara Barat),
  11. PT. Amman Mineral Nusa Tenggara
  12. GRAHAPALA UNIVERSITAS MATARAM
  13. TARUNA SIAGA BENCANA (TAGANA), Kementerial Sosial,
  14. Tim Medis EMHC (Edelweiss Medical Health Centre), Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Sembalun.
  15. Relawan dan semua pihak yang membantu proses evakuasi. 

Dirjen KSDAE KEMENLHK telah menutup seluruh jalur pendakian untuk kegiatan pendakian sejak 29 Juli 2018 sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Akan segera dilakukan penelitian dan pengkajian terhadap keamanan jalur pendakian, jalur pendakian alternatif evakuasi,  prediksi pola kegempaan dan letusan dan dampak pendakian. Penelitian/pengkajian  akan dilakukan oleh tim pakar-praktisi secara terpadu, dan hasilnya akan dilaporkan kepada publik.

Rencana perbaikan manajemen pendakian kedepan dilakukan melalui:

  1. Pemberlakuan sistem booking online sebagai bagian dari manajemen pengunjung, pelaku wisata dan jasa usaha.
  2. Penetapan kuota pengunjung per hari.
  3.   Manajemen sampah melalui sistem pack in-pack out menuju zero wastesampah pendaki.
  4. Operasionalisasi kembali CCTV untuk optimalisasi monitoring pendaki. 
  5. Pemberlakuan tagging pendaki dengan sistem Radio Frequency Identification(RFID), untuk dapat memonitor pergerakan pendaki.Teknologi Informasi UNRAM akan mendukung pembangunan sistem RFID ini.

Langkah-langkah dalam mengantisipasi dan menangani apabila terjadi bencana pendakian adalah:

  1. Merancang jalur evakuasi dan sistem evakuasi.
  2. Penguatan koordinasi dengan stakeholder terkait kebencanaan.
  3.  Diklat SAR bagi petugas dan pelaku wisata (Trek Organizer, Guide dan Porter).

Tim Tanggap Bencana di kawasan TNGR tetap bersiaga hingga 6 Agustus 2018.Apabila terjadi keadaan  darurat agar menghubungi Call Centre Balai TN Gunung Rinjani, dengan nomor 0811283939.

Sembalun, 1 Agustus 2018

 

Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,

TTD

Ir. Wiratno, MSc.


Informasi Terkait
  • Tujuh Pengunjung Terakhir di Evakuasi dari Gunung Rinjani
  • Jenazah Korban Gempa di Dalam Kawasan Gunung Rinjani Berhasil Dievakuasi
  • Tim Gabungan Evakuasi Bergerak Menyelamatkan Para Pendaki Gunung Rinjani
  • BTNGR Melakukan Kampanye Siaga Kebakaran Hutan